HUBUNGAN
TASAWUF DENGAN ILMU-ILMU LAIN
MAKALAH
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah:
Akhlak
Tasawuf
DOSEN PENGAMPU:
ABDUL HALIM S.AG., M.S.I.

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK
5
1.. Mujahid Sabilillah (27)
2. Ali
Toha (5)
3 Aisyah Nurul Aini. (3)
4..M.Marzuki (40)
SEKOLAH
TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)“AL-MUSLIHUUN” TLOGO KANIGORO BLITAR
JI.Raya
Gaprang Po.Box 108 Blitar 66171 Telp. (0342) 807422
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN
AJARAN 2020/2021
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat dan karunia, serta taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat
menyelesaikan makalah berjudul “Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu-Ilmu Lain "
yang bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah akhlak tasawuf
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada
Bapak Abdul Halim S.Ag., M.S.I. selaku dosen mata kuliah akhlak tasawuf yang
telah membimbing dan memberikan tugas ini.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan dan pengetahuan Dan juga bagi penulis serta pembaca
bisa mendapatkan pelajaran dan informasi yang bisa kita terapkan dalam
bermasyarakat. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang
bersifat membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan seluruh
pembacannya.
Blitar
, 05 Oktober 2021
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
…………………………………………………………………………………….
DAFTAR ISI
………………………………………………………………………………………………
BAB I…………………………………………………………………………………………………........
PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………...........
LATAR BELAKANG:………………………………………
……………………..………………………
RUMUSAN MASALAH:………………………………………………… ………………………………
TUJUAN MASALAH:
……………………………………………………………………..…………….
BAB II………………………………………………………………………………………….………….
PEMBAHASAN……………………………………………………………………………………..……..
1.Pembagian
Ilmu-Ilmu Islam…………………………………………………………………………….
2.Hubungan Ilmu
Tasawuf Dengan Ilmu-Ilmu Lain…………………………………………………..
3.Relevansi Tasawuf Dalam Kehidupan…………………………………………………………………..
BAB III……………………………………………………………………………………………….........
PENUTUPAN……………………………………………………………………………………………...
KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………….
Latar Belakang Secara
historis akhlak tasawwuf adalah pemandu perjalanan hidup umat manusia agar selamat
dunia dan akhirat, itu di karenakan Akhlak Tasawuf merupakan salah satu
khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin
dirasakan. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad saw. adalah
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor
pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya
yang prima. Melihat betapa pentingnya akhlak tasawuf dalam kehidupan ini
tidaklah menghe-rankan jika akhlak tasawuf ditentukan sebagai mata kuliah yang
wajib diikuti oleh kita semua. Sebagai upaya untuk menanggulangi kemerosotan
moral yang tengah dialami bangsa ini. Untuk mengungkap segala permasalahan yang
terkait dengan Akhlak Tasawuf
- Apa
saja ilmu yang berhubungan dengan
tasawuf ?
- Apa
pengertian tasawuf ?
- Bagaimana
ilmu lain dapat bersinambung dengan ilmu tasawuf ?
- Bagaimana
Ciri-ciri ilmu tasawuf ?
- Untuk
Mengetahui perbedaan ilmu tasawuf dengan ilmu lain.
- Untuk
Mengetahui asal mula ilmu tasawuf.
- Mengetahui dasar-dasar ilmu yang bersinambung
dengan tasawuf.
- Mengetahui
pengertian ilmu tasawuf dalam kehidupan ini.
1.PEMBAGIAN
ILMU-ILMU ISLAM
Ilmu-ilmu keislaman pada dasarnya secara akademik
dapat dibagi menjadi tiga bidang
keilmuan Islam; pertama, Ilmu Islam normatif, kedua, Ilmu Islam historis, dan ketiga, Ilmu Islam
multidisipliner. Studi Islam yang
bercorak normatif, kajian yang dilakukan lebih bersumber kepada teks-teks agama
Islam, misalnya teks hadits, tafsir, fiqih, dan sebagainya. Kajian bidang Ilmu
Islam ini memang menjadikan teks-teks ajaran Islam sebagai sasaran kajiannya.
Sedang studi Islam yang bercorak historisita, kajiannya lebih menjadikan
fenomena sosial sebagai sasaran
kajiannya. Di sini terdapat sejarah Islam, kebudayaan Islam, antropologi,
psikologi, ilmu hukum, politik dan sebagainya. Pembidangan ini
terkait dengan obyek kajian ilmu keislaman yang memang di satu sisi ada dimensi
normativitasnya dan di sisi lain ada dimensi
historisitasnya. Sementara yang ketiga, adalah bidang Ilmu Islam yang dikenal
dengan ”Ilmu Islam
Multidispliner”.Dasar filosofi pembidangan ini adalah
karena kajian keilmuan Islam dapat menggunakan
berbagai pendekatan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan bahkan sains, sehingga bisa
berupa kajian yang bercorak teks
keislaman, tetapi didekati dengan
ilmu-ilmu lainnya. Ilmu Islam normativitas misalnya, menjadi sasaran kajian, dan disiplin ilmu
sosial atau humaniora menjadi pendekatan, sehingga teks-teks keislaman menjadi
sasaran kajiannya, sedang ilmu-ilmu sosial atau humaniora menjadi
metodologisnya. Ilmu al-Qur’an, ilmu
Hadits, ilmu fiqh dan sebagainya dapat didekati dengan ilmu sosial seperti;
sosiologi, politik, psikologi, antropologi atau ilmu humaniora seperti sejarah,
filologi, hermeneutika, filsafat,
dan lain sebagainya. Di samping itu, keberagamaan
dalam Islam dikenal adanya tiga dimensi
yaitu: iman, Islam dan ihsan. Pada tahap iman,
seseorang menyakini dan mempercayai
sepenuhnya kehadiran Tuhan. Melalui keyakinan ini seseorang kemudian memasuki
dimensi Islam, yaitu patuh menjalani syari’at agama yang memuat hukum-hukum dan
peraturan serta tata cara dalam ibadat dan mu’amalat sebagai perintah dari
Tuhan yang diyakininya itu. Dengan menjalankan syari’at agama pada dimensi
kedua ini seseorang diharapkan dapat memasuki dimensi berikutnya, ihsan.
Dimensi ini adalah sebagai aktualisasi diri manusia yang didasarkan pada
hubungannya yang intens dengan Tuhan secara pribadi,menerima amanat-Nya sebagai
wakil-Nya, untuk kemudian melaksanakan tugas kekhalifahan yakni memakmurkan,
mensejahterakan dan menyelamatkan kehidupan mereka di muka bumi.
Jika direnungkan lebih dalam, maka ketiga dimensi
keagamaan di atas dapat mengembangkan dunia keilmuan. Dimensi
iman dapat berkembang ilmu ketuhanan dan ilmu hakikat semua yang ada,
sehingga bisa melahirkan ilmu filsafat atau hikmah. Dimensi Islam (syari’ah)
yang menetapkan prinsip ibadat
dan mu’amalat bisa berkembang ilmu-ilmu sosial,
kebudayaan, dan iptek yang terkait dengan manusia dan alam. Sedangkan dimensi
ihsan akan berkembang psikologi atau
ilmu tasawuf. Dengan demikian
ilmu Islam merupakan kesatuan antara filsafat (iman), ilmu dan teknologi
(Islam), dan tasawuf (ihsan),
sebagai manifestasi kesatuan religiusitas untuk
meneguhkan kemanusiaan dan menegakkan moralitas serta spiritualitas. Oleh
karena itu, di dalam ilmu Islam sesungguhnya tidak dikenal adanya dikotomi ilmu
agama dan ilmu umum, ilmu duniawi dan ukhrawi.Kuntowijoyo mengatakan bahwa
al-Qur’an sesungguhnya menyediakan kemungkinan yang sangat besar untuk
dijadikan sebagai cara berpikir. Cara
berpikir inilah yang dinamakan paradigma al-Qur’an,
paradigma Islam.Pengembangan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan yang
berdasarkan pada paradigma al-Qur’an
jelas akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Kegiatan itu mungkin
menjadi pendorong munculnya ilmu-ilmu pengetahuan alternatif. Jelas bahwa
premis-premis normatif al-Qur’an dapat
dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional. Struktur transendental
al-Qur’an adalah sebuah ide normatif dan
filosofis yang dapat dirumuskan menjadi paradigm teoritis. Ia akan memberikan kerangka bagi
pertumbuhan ilmu pengetahuan empiris dan rasional yang orisinal, dalam arti
sesuai dengan kebutuhan pragmatis
umat manusia sebagai khalifah di bumi. Itulah
sebabnya pengembangan teoriteori ilmu pengetahuan Islam dimaksudkan untuk
kemaslahatan umat Islam. Pandangan dikotomis yang menempatkan Islam
sebagai suatu disiplin yang selama ini terasing dari
disiplin ilmu lain telah menyebabkan ketertinggalan para ilmuan Islam baik
dalam mengembangkan wawasan keilmuan maupun untuk menyelesaikan berbagai
masalah dengan menggunakan multidimensional approach (pendekatan dari berbagai
sudut pandang). Oleh karena itu wajarlah
jika dikotomi ilmu pengetahuan mendapatkan gugatan dari masyarakat,
termasuk gugatan dari para ilmuan muslim melalui wacana Islamisasi ilmu
pengetahuan.
Amin Abdullah mengatakan, bahwa merupakan kecelakaan sejarah umat Islam,
ketika bangunan keilmuan natural sciences (al-ulum al-kauniyyah) menjadi
terpisah dan tidak bersentuhan sama sekali dengan ilmu-ilmu keislaman yang
pondasi dasarnya adalah “teks” atau nash. Meskipun peradaban Islam klasik
pernah mengukir sejarahnya dengan nama-nama yang dikenal menguasai ilmuilmu
kealaman, antara lain seperti Al-Biruni (w.1041) seorang ensiklopedis muslim,
Ibn Sina seorang filosuf dan ahli kedokteran, Ibn Haitsam (w.1039) seorang
fisikawan, dan lain-lain. Oleh karena itu, Ilmu pengetahuan Islam perlu
direkonstruksi kembali dengan paradigma baru yaitu bahwa ilmu pengetahuan Islam
menggambarkan terintegrasinya seluruh sistem ilmu pengetahuan dalam satu
kerangka. Ilmu pengetahuan Islam menggunakan pendekatan wahyu, pendekatan
filsafat, dan pendekatan empirik, baik dalam pembahasan substansi ilmu, maupun
pembahasan tentang fungsi dan tujuan ilmu pengetahuan. Dengan rekonstruksi ilmu
pengetahuan Islam, maka pola dikotomi antara ilmu pengetahuan Islam (syari’ah)
dengan ilmu pengetahuan umum akan bias dieliminir, keduanya saling berhubungan secara fungsional (fungsional
Corelation). Moh. Natsir Mahmud
mengemukakan beberapa proposisi (usulan) tentang kemungkinan
islamisasi ilmu pengetahuan.[1]
2.
HUBUNGAN ILMU TASAWUF DENGAN ILMU-ILMU
LAIN
ilmu tasawuf adalah suatu ilmu yang sangat penting
dimiliki manusia karena dengan ilmu tasawuf jiwa kita lebih tenang dan damai.
Dan bertasawuf bukanlah harus dengan bertarikat tapi hakikat ilmu tasawuf
adalah pembinaan jiwa kerohanian sehingga bisa berhubungan dengan Allah sedekat
mungkin.
Maka dengan begitu kita semua bisa bertasawuf
walaupun apapun berprofesinya, karena inti tasawuf adalah terisinya jiwa dengan
akhlak yang baik dan kesucian jasmani dan rohani dari akhlak yang tercela.
Untuk itu menurut kami orang yang bisa menjaga dirinya dari kedua hal tersebut
juga sudah dinamakan hidup bertasawuf.
Suatu kesalahan besar bagi orang yang menganggap ilmu
tasawuf adalah ilmu yang tradisional ataupun ketinggalan jaman, ilmu yang tidak
peduli terhadap kehidupan dunia dan ilmu yang hanya cocok bagi orang tertentu.
Karena bagaimanapun ilmu tasawuf adalah suatu ilmu keislaman yang berkedudukan
sebagai rumusan teoritis terhadap wahyu Al-Qur’an dan Al-hadist sebagaimana
juga ilmu kalam, dan ilmu filsafat. Untuk itu bagaimana peranan dan hubungan
ilmu tasawuf terhadap ilmu keislaman lainnya? Dan apakah ilmu keislaman lainnya
juga relevan dengan ilmu tasawuf ? dan jika relevan bagaimana kontribusi yang
diberikan ilmu tasawuf terhadap ilmu keislaman lainnya?.
A. PERANAN DAN HUBUNGAN ILMU TASAWUF
TERHADAP ILMU KEISLAMAN LAINNYA
Seorang sufi pun harus mengetahui aturan-aturan hukum
sekaligus mengamalkannya. Paparan di atas telah menjelaskan bahwa ilmu tasawuf
dan ilmu lainnya adalah dua disiplin ilmu yang saling melengkapi. Setiap orang
harus menempuh keduanya. Dengan catatan bahwa kebutuhan perseorangan terhadap
kedua disiplin ilmu ini sangat beragam sesuai dengan kadar ilmu, kualitas
ilmunya, keterkaitan Ilmunya. Dari sini dapat di fahami bahwa ilmu lainnya,
yang terkenal sangat lahiriah, menjadi sangat kering, kaku dan tidak mempunyai
makna yang berarti bagi kehambaan seorang jika tidak di isi dengan muatan
kesadaran rohaniyah yang di miliki oleh tasawuf. Begitu pula sebaliknya,
tasawuf akann lebih terhindar dari sikap-sikap ‘dhohir’ sehingga tidak perlu
lagi memerhatikan kesucian lahir yang di atur dalam fiqih. Menurut sebagian
ahli tasauf, An-nafs (jiwa) adalah roh setelah bersatu dengan jasad. Penyatuan
roh dengan jasad melahirkan pengaruh yang di timbulkan oleh jasad terhadap ruh.
Pengaruh-pengaruh ini akhirnya memunculkan kebutuhan-kebituhan jasad yang di
bangu roh. Jika jasad tifak memiliki tuntunan yang tidak sehat dan disitu
terdapat kerja pengekangan nafsu, sedangkan qalbu tetap sehat,
tuntunan-tuntunan jiwa terus berkembang sedangkan jasad menjadi binasa karena
mendalami jiwa
Ilmu kalam, filsafat, psikologi dan tasawuf mempunyai
objek kajian yang mirip. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala
sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian filsafat pun adalah masalah
ketuhanan disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada.
Objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yaitu
upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya. Jadi, dari aspek objeknya ketiga itu
sama-sama membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan. Baik ilmu kalam,
filsafat maupun tasawuf bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang
sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam, dengan metodenya mencari kebenaran tentang
Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat, dengan wataknya menghampiri
kebenaran, baiktentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat
dijangkau ilmu pengetahuan karena di luar atau diatas jangkauannya), atau
tentang Tuhan. Sementara itu, tasawuf-juga dengan metodenya yang
tipikal-berusaha menghampiri kebenaran berkaitan dengan perjalanan spiritual
menuju Tuhan.
B. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU KALAM
Ilmu kalam adalah disiplin ilmu keIslaman yang banyak
mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan.
Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang
mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun
naqliyah. Argumentasi aqliyah yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang
cenderung menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah
biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil- dalil Al-Qur’an dan hadits.
Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak
menyentuh rasa rohaniah. Sebagai contoh, ilmu kalam menerangkan bahwa Allah
bersifat Sama’, Bashar, Kalam, Iradah, Qudrah, Hayat dan sebagainya.
Namun, ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimana seorang
hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya, bagaimana
pula perasaan hati seseorang ketika membaca Al-Qur’an, bagaimana seseorang
merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari kekuasaan
Allah ? Pernyataan-pernyataan diatas sulit
terjawab hanya dengan berlandaskan pada ilmu kalam. Biasanya yang
membicarakan penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu Tasawuf.
Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai akidah dengan
memperhatikan bahwa persoalan bagaimana merasakan tidak saja termasuk dalam
lingkup hal yang diwajibkan. Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan
definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya.
Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis
untuk merasakan keyakinan dan ketentraman. Sebagaimana dijelaskan juga tentang
menyelamatkan diri dari kemunafikan. Semua itu tidak cukup hanya diketahui
batasan-batasannya oleh seseorang. Sebab terkadang seseorang sudah tahu
batasan-batasan kemunafikan tetapi tetap saja melaksanakannya.
As-Sunnah memberikan perhatian yang begitu besar
terhadap masalah tasawuf seperti hadis
Rasul yang dikutip Said Hawwa, yang artinya “yang merasakan rasanya iman adalah
orang yang ridha kepada Allah SWT. sebagai Tuhan, ridha kepada Islam
sebagaiAgama, dan ridha kepada Muhammad sebagai rasul”.
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu Tasawuf
mempunyai fungsi, yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai
pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam
lewat hati terhadap ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau
teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu Tasawuf merupakan
penyempurna ilmu kalam.
2. Berfungsi
sebagai pengendali ilmu Tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang
bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan
dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau
penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an
dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu
harus ditolak.
3. Berfungsi
sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam.
Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi
sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional disamping muatan naqliyah, ilmu
kalam dapat bergerak kearah yang lebih bebas.
Disinilah ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan
rohaniah sehingga ilmu kalam terkesan sebagai dialektika keIslaman belaka yang
kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan hati. Andaikata manusia sadar
bahwa Allahlah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna, kalau
saja dia tahu kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong
dan membanggakan diri. Kalau saja manusia sadar bahwa Allahlah pencipta segala
sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya. Dari sinilah dapat dilihat
bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah
(pendakian para kaum sufi). Dalam ilmu Tasawuf, semua persoalan yang berada
dalam kajian ilmu kalam terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi akan lebih
dinamis dan aplikatif.
C. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU
FILSAFAH
Biasanya Tasawuf dan filsafah selalu dipandang
berlawanan. Ada juga anggapan bahwa pencarian jalan Tasawuf mengharuskan
pencelaan filsafat, tidak hanya berupa timbal balik dan saling mempengaruhi,
bahkan asimilasi (perpaduan) dan hubungan ini sama sekali tidak terbatas pada
kebencian dan permusuhan. Tasawuf adalah pencarian jalan ruhani, kebersatuan
dengan kebenaran mutlak dan pengetahuan mistik menurut jalan dan sunnah.
Sedangkan filsafah tidak dimaksudkan hanya filsafah peripatetic yang
rasionalistik, tetapi seluruh mazhab intelektual dalam kultur Islam yang telah
berusaha mencapai pengetahuan mengenai sebab awal melalui daya intelek.
Filsafat terdiri dari filsafat diskursif (bahtsi) maupun intelek intuitif
(dzawqi). Hubungan antara Tasawuf dan filsafat, yaitu:
1. Bentuk hubungan yang paling luas antara Tasawuf
dan filsafat tentu saja adalah pertentangan satu sama lain, sebagaimana tampak
dalam karya-karya al- Ghazali bersaudara, Abu hamid dan Ahmad. Dan penyair sufi
besar seperti Sana’I, Athar, dan Rumi. Kelompok sufi ini hanya memperhatikan
aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali berbicara tentang intelek, mereka
tidak mengartikan intelek dalam arti mutlaknya, namun mengacu kepada aspek
rasional intelek (akal). Athar juga memahami filsafat hanya sebagai filsafat
peripatetic yang rasionalistik, dan menekankan bahwa hal itu tidak boleh
dikelirukan dengan misteri ilahiah dan pengetahuan ilahiah, yang merupakan
usaha puncak pensucian jiwa dibawah bimbingan spiritual para guru sufi. Intelek
tidak sama dengan hadist Nabi dan falsafah tidak sama dengan teosofi (hikmah)
dalam makna Qur’aninya. Matsnawi adalah sebuah Masterpiece filsafat.
2. Hubungan antara Tasawuf dan filsafat tampak dalam
munculnya bentuk khusus yang terjalin erat dengan filsafat. Meskipun bentuk
tasawuf ini tidak menerima filsafat peripatetic dan mazhab-mazhab filsafat lain
yang seperti itu, namun ia sendiri tercampur dengan filsafat atau teosofi
(hikmah) dalam bentuknya yang paling luas. Dalam mazhab Tasawuf itu, intelek
sebagai alat untuk mencapai realitas tentang yang mutlak dengan memperoleh
kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, dalam tasawuf berkembang satu jenis
teosofi (ilmu ilahi) yang tidak hanya datang untuk menggantikan filsafat
didunia Arab, tapi di Persia ia juga amat mempengaruhi jika bukan menggantikan
filsafat dan kemudian secara amat efektif menggabungkan filsafat dan Tasawuf,
bahkan mengganti nama Tasawuf menjadi Irfan (gnosis,makrifat) pada periode
safawi. Penentangan terhadap filsafat masih tetap tampak, tapi penentangan ini
sebenarnya muncul dalam kaitannya dengan istilah falsafah dan rasionalisme.
3. Hubungan Tasawuf dan filsafah berbeda dari apa
yang diamati dalam tasawuf yang didominasi cinta, seperti pada Athar dan
lainnya.
4. Hubungan antara Tasawuf dan filsafat ditemukan
dalam karya-karya para sufi yang sekaligus juga filosof, Yang telah berusaha
untuk merujuk tasawuf dan filsafat. Afdhaluddin kasyani, Quthbuddin syirazi,
Ibd Turkah al-Isfahani, dan Mir Abul Qosim findiriski, orang-orang ini
seluruhnya adalah sufi yang berjalan pada jalan spiritual dan telah mencapai
maqam spiritual, dan beberapa diantara mereka terdapat para wali, tetapi pada
saat yang sama secara mendalam memahami filsafat dan cukup mengherankan,
beberapa diantara mereka lebih tertarik pada filsafat peripatetic dan
rasionalistik daripada filsafat intuitif (dzawqi), sebagaimana dapat diamati
dalam kasus Mir Findiriski yang amat mendalami As-Syifanya Ibnu Sina. Diantara
kelompok ini, Afdhaluddin Kasyani memegang kedudukan yang unik. Ia tidak hanya
salah satu sufi terbesar yang hingga hari ini mouseleumnya di Maqam Kasyani
menjadi tempat Ziarah, baik orang-orang yang awam maupun orang-orang
terpelajar, tetapi ia juga dianggap sebagai salah satu filosof Persia terbesar
yang sumbangannya bagi pengembangan bahasa filsafat Persia tak tertandingi.
Karya-karya filsafatnya dalam logika, teologi, ataupun dalam ilmu-ilmu alam
ditulis dalam bahasa Persia yang jelas dan fasih, dan merupakan Masterpiece
dalam bahasa ini. Ia tidak hanya menunjukkan dengan jelas wawasan tasawuf dalam
syair-syairnya, namun dalam hal logika dan filsafat yang paling ketat
sekalipun.
5. Kategorisasi umum kita mengenai hubungan Tasawuf
dengan filsafat, mencakup para filosof yang mempelajari atau mempraktekan
Tasawuf. Yang pertama dari kelompok ini adalah Al-Farabi, yang mempraktekan
Tasawuf dan bahkan telah mengubah musik yang dimainkan dalam pertemuan Sama’
pada sufi, mutiara hikmah yang dinisbatkan kepadanya sangatlah penting. Karena,
pada dasarnya, inilah buku mengenai filsafat maupun makrifat dan hingga kini
diajarkan di Persia bersama komentar-komentar makrifati.
D. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN PSIKOLOGI
(ILMU JIWA)
Dalam pembahasan Tasawuf dibicarakan tentang hubungan
jiwa dengan badan. Yang dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa
dan badan dalam Tasawuf tersebut adalah terciptanya keserasian antara kedunya.
Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka
melihat sejauh mana hubungan perilaku yang dipraktikan manusia dengan dorongan
yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini, baru
muncul kategori-kategori perbuatan manusia, apakah dikategorikan sebagai
perbuatan jelek atau perbuatan baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang
baik, ia disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang
ditampilkannya jelek, ia disebut sebagai orang yang berakhlak jalek.
Dalalm pandangan kaum sufi, akhlak dan sifat
seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang
berkuasa dalam tubuhnya adalah nafsu-nafsu hewani atau nabati, yang akan tampil
dalam perilakunya adalah perilaku hewani atau nabati pula. Sebaliknya, jika
yang berkuasaadalah nafsu insani, yang akan tampil dalam perilakunya adalah
perilaku insani pula. Orang yang sehat mentalnya adalah yang mampu merasakan
kebahagiaan dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasakan bahwa
dirinya berguna, berharga, dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaksimal
mungkin dengan cara membawa kebahagiaan dirinya dan orang lain. Disamping itu,
ia mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas, terhindar dari
kegelisahan-kegelisahan dan gangguan jiwa, serta tetap terpelihara moralnya
Sebab itu ilmu tasawuf sangat penting di pelajari
dikhalayak masyarakat karena mengapa begitu,karena ilmu tasawuf memiliki
beberapa manfaat dan tujuan tersendiri.
Pada dasarnya hakikat Tasawuf adalah mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Melalui penyucian diri dan perbuatan-perbuatan (amaliyah)
Islam. Oleh karena itu, beberapa tujuan Tasawuf adalah Ma'rifatullah (mengenal
Allah secara mutlak dan lebih jelas). Inti sari ajaran Tasawuf bertujuan
memperoleh hubungan langsung dengan Allah SWT. Sehingga seseorang akan merasa
berada di hadirat-Nya.
Tasawuf memliki tujuan yang baik yaitu kebersihan
diri dan taqorrub kepada Allah SWT. Namun, Tasawuf tidak boleh melanggar
apa-apa ynag telah jelas diatur dalam Al-Qur'an dan As-sunnah, baik dalam
aqidah, pemahaman ataupun tata cara yang dilakukan, Mustafa Zuhri mengatakan
bahwa tujuan perbaikan akhlak, mengatakan untuk membersihkan kalbu dari kotoran
-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci dan bersih, bagaikan
cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan.
Ada beberapa peran Tasawuf dalam kehidupan modern,
antara lain:
a. Menjadikan manusia berkepribadian yang saleh dan
berakhlak baik
b. Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
C. Sebagai obat mengatasi krisis kerohanian manusia
(dekadensi moral) .
Manfa'at mempelajari Tasawuf Faedah Tasawuf adalah
membersihkan hati agar sampai kepada Ma'rifat Allah SWT. Sebagai Ma'rifat yang
sempurna untuk keselamatan diakhirat dan mendapatkan keridlaan Allah SWT. Dan
mendapat kebahagiaan abadi . Dengan adanya bantuan Tasawuf , maka ilmu pengetahuan
satu dengan yang lainnya tidak akan bertabrakan, karena ia berada dalam satu
jalan dan satu tujuan . Juga Untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari
dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa berada di hadirat-Nya.[2]
3.RELEVANSI
TASAWUF DALAM KEHIDUPAN
Masyarakat modern semakin mendewakan keberadaan ilmu
pengetahuan, maka seakan-akan kita berada pada wilayah pinggiran yang bermadzab
ke-barat-an dan bahkan kita hampir-hampir kehilangan visi keilahian. Hal inilah
yang membuat kita makin stress dan gersang hati kita dengan dunia, akibat tidak
mempunyai pegangan hidup.
Wujud dari kemampuan manusia, umumnya berupa kekuatan
ekonomi, teknologi, dan kekuatan ibadiyah. Wajar sekali, kekuatan ekonomi dan
teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam
demi menjaga dan mengangkat harkat dan martabat umat itu sendiri. Hal ini
disebabkan maraknya perkembangan dan kebutuhan duniawi yang marak juga. Maka
dari itu, keselamatan seseorang ditentukan oleh pribadi masing-masing, di mana
ia semakin menjaga martabat Islam, semakin pula dirinya terjaga dari arus
besarnya kemodernismean.
Keseimbangan memang dibutuhkan, tapi realita yang
terjadi ketika insan bertaqorub ilahirobbi yang mana mereka menjalani hidup
penuh dengan nuasa tasawuf tidak disertai yang namanya EQ. Sehinga yang
terjadi, mereka hanya bisa dekat dengan Tuhannya tapi tidak dekat dengan
lingkungannya yakni masyarakat sekitarnya. Sebagai muslim yang beritikad shaleh
untuk agama, berkeyakinan baik dengan adanya perkembangan zaman, hendaknya
menyeimbangi pekembangan tersebut bukan mengikuti bahkan terpengaruh
perkembangan zaman. Untuk itu, pertebal kekuatan keilmuan untuk menyeimbangi
perkembangan zaman.
Sejauh ini, kita memahami bahwa tasawuf hanya sebagai
sarana pendekatan diri manusia kepada Allah SWT melalui segala jenis ritme
ibadah seperti taubat, zikir, iklhas, zuhud, dll. Tasawuf dicari orang lebih
untuk sekedar mencari ketenangan, ketentraman dan kebahagian sejati manusia,
ditengah orkestrasi kehidupan duniawi yang tak memiliki arah dan tujuan pasti.
Tasawuf menjadi sangat penting, karena menjadi fundasi dasar dalam upaya untuk
meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tasawuf sebagai salah satu pilar utama dalam Islam
harus dapat menyesuaikan diri di dunia modern ini, karena kebanyakan manusia
didominasi oleh hegemoni paradigma ilmu pengetahuan dan budaya Barat yang
materialistik-sekularistik. Dominasi ilmu pengetahuan dan budaya Barat
materialisme-sekularisme ini terbukti lebih bersifat destruktif ke timbang
konstruktif bagi kemanusiaan. Jika kemudian hal tersebut dibenturkan pada ranah
agama, maka akan didapati masalah yang bersifat akut. Sebab “filsafat” pengetahuan
Barat hanya menganggap valid ilmu pengetahuan yang semata bersifat
induktif-empiris, rational-deduktif dan pragmatis, serta menafikan atau menolak
ilmu pengetahuan non-empiris dan non-positivisme, yaitu ilmu pengetahuan yang
bersumber dari wahyu ketuhanan (kitab suci dan bibbel)
Paradigma materialistic-mekanistik yang berkiblat
pada metodologi Cartesian dan Newtonian (hipotesis deduktif dan eksperimental
nduktif) ini telah menyebar dan mempengaruhi berbagai cabang disiplin ilmu-ilmu
lainnya, sehingga kehidupan, bahkan kesadaran manusia, direduksi hanya menjadi
segi materialistis belaka. Misalnya, Adam Smith dalam bidang ekonomi berbicara
tentang prinsip “mekanisme pasar” dan Charles Darwin dalam Biologi berbicara
tentang “teori evolusi”’. Paradigma mekanistik-materialistik semacam ini
terbukti telah berani seedikit demi sedikit menafikan “Tuhan” dari wacana
keilmuan dan mempromosikan sekularisme.
Di sinilah pentingnya tasawuf,di mana konsep
kebenaran ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan korespondensi, koherensi dan
pragmatisme saja, tapi juga yang bersifat spiritual-ilahiyah. Artinya sumber
ilmu pengetahuan, selain mungkin didapat melalui akal rasional, dan empiris
inderawi (observasi) juga niscaya didapatkan dan diperkuat melalui petunjuk
wahyu (kitab suci), pelajaran sejarah, latihan-latihan ruhani, penyaksian dan
penyingkapan ruhaniyah. Seperti kata Jalaludin Rumi, seorang sufi agung, kaki
rasionalisme semata adalah kaki kayu yang rapuh untuk meraih ilmu pengetahuan
dan kebenaran. Sufisme atau tasawwuf mengajarkan kita untuk melihat di balik
selubung kegelapan yang telah menutupi sistem-sistem kepercayaan kita.
“Solidaritas dan toleransi dapat di tumbuhkan
denganpengembangan dimensi esoteris agama yang dalam islam di sebut Tasawuf.
Dalam tasawuf terdapat ajaran tentang zuhud, sabar dan itsar”
Relevansi Tasawuf dengan problem manusia modern
adalah karena Tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin
syari’ah sekaligus. Ttasawuf juga menghendaki pelaksanaan syari’at, sebab tasawuf
dan syariat tidak bisa di pisahkan satu sama lain, apalagi di pertentangkan.
Tasawuf merupakan aspek esoteris (batiniyah) sedangkan syariat adalah aspek
eksoteris (lahiriyah) Islam. Kedua aspek itu saling terintregasi.
Tasawuf bisa difahami sebagai pembentuk tingkah laku
melalui pendekatan Tasawuf suluky, dan bisa memuaskan dahaga intelektuil
melalui pendekatan Tasawuf falsafy. Ia bisa diamalkan oleh setiap muslim, dari
lapisan sosial manapun dan di tempat manapun. Secara fisik mereka menghadap
satu arah, yatiu Ka’bah, dan secara rohaniah mereka berlomba lomba menempuh
jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju kepada Tuhan yang Satu, Allah
SWT
Jadi, fungsi tasawuf dalam hidup adalah menjadikan
manusia berkeperibadian yang shalih dan berperilaku baik dan mulia serta
ibadahnya berkualitas. Mereka yang masuk dalam sebuah tharekat atau aliran
tasawuf dalam mengisi kesehariannya diharuskan untuk hidup sederhana, jujur,
istiqamah dan tawadhu. Semua itu bila dilihat pada diri Rasulullah SAW, yang
pada dasarnya sudah menjelma dalam kehidupan sehari-harinya. Apalagi di masa
remaja Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai manusia yang digelari al-Amin,
Shiddiq, Fathanah, Tabligh, Sabar, Tawakal, Zuhud, dan termasuk berbuat baik
terhadap musuh dan lawan yang tak berbahaya atau yang bisa diajak kembali pada
jalan yang benar. Perilaklu hidup Rasulullah SAW yang ada dalam sejarah
kehidupannya merupakan bentuk praktis dari cara hidup seorang sufi.[3]
BAB
III
PENUTUPAN
KESIMPULAN
Di sinilah
pentingnya tasawuf modern, di mana konsep kebenaran ilmu pengetahuan tidak
hanya berdasarkan korespondensi, koherensi dan pragmatisme saja, tapi juga yang
bersifat spiritual-ilahiyah. Artinya sumber ilmu pengetahuan, selain mungkin
didapat melalui akal rasional, dan empiris inderawi (observasi) juga niscaya
didapatkan dan diperkuat melalui petunjuk wahyu (kitab suci), pelajaran sejarah,
latihan-latihan ruhani, penyaksian dan penyingkapan ruhaniyah. Seperti kata
Jalaludin Rumi, seorang sufi agung, kaki rasionalisme semata adalah kaki kayu
yang rapuh untuk meraih ilmu pengetahuan dan kebenaran. Sufisme atau tasawwuf
mengajarkan kita untuk melihat di balik selubung kegelapan yang telah menutupi
sistem-sistem kepercayaan kita.
Tasawuf salah
satu bidang study islam yang merupakan kesimpulan dari kesimpulan tentang aspek
rohani manusia yang dapat menimbulkan akhlak mulia.
obyek kajian
tasawuf adalah hati atau jiwa manusia, pembahasan tasawuf lebih banyak pada
masalah jiwa manusia secara immateri.
Dalam
membersihkan atau mensucikan hati ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk
mencapai derajat (maqam) yang tinggi di sisi Allah, antara lain :
1. Taubat
2. Wara'
3. Zuhud
4. Fakir
(al-Faqr)
5. Sabar
(as-Shabr )
6. Tawakal
7. Ridha
(ar-Ridha)
Tasawuf memliki
tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqorrub kepada Allah SWT. Yakni memperoleh
hubungan langsung dengan Allah SWT. Sehingga seseorang akan merasa berada di
hadirat-Nya.
Faedah Tasawuf
adalah membersihkan hati agar sampai kepada Ma'rifat Allah SWT. Sebagai
Ma'rifat yang sempurna untuk keselamatan diakhirat dan mendapatkan keridlaan
Allah SWT. Dan mendapat kebahagiaan abadi.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar. 2007.
Akhlak Tasawuf. CV Pustaka Setia. Bandung.
Hadis Riwayat
Muslim dan Tirmidzi; Lihat juga Sa’id Hawwa, 1997. Tarbiyatunar-ruhiyah, terj.
Khairul Rafei’ M. Dan Ibnu Thaha Ali, Bandung: Mizan.
Ghazali, Adeng
Muchtar. Perkembangan Ilmu Kalam Dari Klasik Hingga Modern. Bandung: Pustaka
Setia, 2015.
Hamka. Tasawuf
Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
Nasution, Ahmad
Bangun dan Rayani Hanum Siregar. Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman dan
Pengaplikasiannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013.
Rozak, Abdul
dan Rosihon Anwar. Ilmu Kalam Edisi Revisi. Bandung: Pustaka Setia, 2014.
Syamhudi,
Hasyim. Akhlak Tasawuf dalam Kontruksi Piramida Ilmu Islam. Malang: Madani
Media, 2015.
Anwar, Rasihon,
dan Dr. Mukhtar Solihin, M. Ag, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2006.
Hasibuan,
Armyn, Ilmu Tasawuf, Padangsidimpuan: STAIN Press, ttp.
Tebba,
Sudirman, Tasawuf Positif, Bogor: Kencana, 2003.
Zahri, Mustafa,
Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya: PT. Bina Ilmu, tt.
[1]
Hamka. Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
Nasution, Ahmad Bangun dan Rayani Hanum Siregar.
Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman dan Pengaplikasiannya. Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2013.
[2]
Syamhudi, Hasyim. Akhlak Tasawuf dalam Kontruksi Piramida Ilmu Islam. Malang:
Madani Media, 2015.
Anwar, Rasihon, dan Dr. Mukhtar Solihin, M. Ag, Ilmu
Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2006.
Hasibuan, Armyn, Ilmu Tasawuf, Padangsidimpuan: STAIN
Press, ttp.
[3]
Anwar, Rasihon, dan Dr. Mukhtar Solihin, M. Ag, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka
Setia, 2006.
Hasibuan, Armyn, Ilmu Tasawuf, Padangsidimpuan: STAIN
Press, ttp.
Tebba, Sudirman, Tasawuf Positif, Bogor: Kencana,
2003.
Comments
Post a Comment